Rabu, 01 September 2010

RENTENIR PENOLONG PEDAGANG KECIL DI PASAR TRADISIONAL

Berdasarkan Alkitab Kristen bahwa meminjamkan uang tidak diperbolehkan apalagi ada hubungan dengan keluarga. Demikian juga sering saya mendengar, di dalam Al-Qur’an bahwa meminjamkan uang adalah riba dalam arti mencari tambahan karena mencari lebih dan bertentangan dengan ajaran agama. Dalam kedua agama tersebut hanya disebut tidak boleh meminjamkan uang sama sekali tanpa menyebut persennya. Dengan kata lain meminjamkan uang dengan bunga 1/2%, 1%, 10%, 20% tidak ada ditegaskan, yang jelas berapa persen pun membungakan uang haram hukumnya.
Di dalam kenyataannya, untuk membangun ekonomi rakyat, pemerintah membuka bank-bank besar dan kecil yang dikoordinir oleh Bank Indonesia dengan sistem bunga, dimana bunganya bervariasi besarnya. Demikian juga akhir-akhir ini sebagian besar masyarakat yang beragama Islam telah membangun bank syariah dengan sistem bagi hasil.

Keuntungan Masing-masing Pihak
Dalam usaha dagang, pedagang kecil yang kerap kita jumpai di pasar tradisional dengan memperoleh pinjaman dengan bunga yang cukup tinggi sebesar 20% dari pihak rentenir, dalam artian membungakan uang dengan jumlah laba yang besar. Hal tersebut perlu kita amati mengenai soal pinjam meminjam dimana ada 2 (dua) pihak yang terlibat di dalamnya yaitu pihak peminjam (pemilik uang) dan pihak yang meminjam. Kita dapat melihat perputaran uang dari kedua belah pihak, yaitu :
1. Dari sisi Si Pemilik Uang
Pihak pemilik uang, bila meminjamkan uang Rp. 100.000,- dengan bunga 20% kepada pedangan kecil di pasar tradiosional maka Si Pemilik modal memperoleh keuntungan Rp. 20.000 per bulan yang harus dilunasi modal beserta bunga setiap bulan Rp. 4.000,- yaitu Rp. 100.000 + Rp. 20.000 (bunga 20%) : 30 hari = Rp. 4.000,- per hari, maka si peminjam uang menerima pembayaran /setoran Rp. 4.000,- per hari.

2. Dari sisi Si Peminjam
Pedagang soto setiap harinya biaya operasionalnya Rp. 100.000,- dengan keuntungan rata-rata Rp. 20.000 - Rp. 25.000 perhari, di rata-ratakan memperoleh hasil Rp. 20.000,- per hari. Dengan demikian Rp. 20.000 – Rp. 4.000 (pengembalian modal + bunga) = Rp. 16.000,- dengan demikian si Peminjam uang memperoleh Rp. 16.000,- per hari dan per bulannya Rp. 16.000 x 30 hari = Rp. 480.000,- per bulan. Dengan demikian keuntungan si peminjam uang disamping modal yang dia pinjam Rp. 100.000,- ditambah keuntungan Rp. 480.000,- = Rp. 580.000,- selama satu bulan.

3. Melihat hal tersebut diatas dimana penghasilan si peminjam uang setiap bulannya sebesar Rp 580.000,- sedangkan si pemilik uang/rentenir penghasilannya Rp. 20.000,- per bulan.
Berdasarkan perbandingan penghasilan tersebut apakah si pemilik uang/rentenir dapat dikategorikan rentenir sebagai penghisap darah dan tidak berperikemanusiaan atau sebagai penolong ekonomi pedagang kecil?

Peranan Pemerintah
Peranan pemerintah dalam membangun pedagang ekonomi kecil di pasar tradisional hampir tidak ada. Pemerintah hanya membantu pengusaha ekonomi menengah ke atas yang dapat memberikan jaminan sebagai agunan, sedangkan masyarakat pedagang kecil di dalam meminjam uang pada bank-bank pemerintah jarang yang dipenuhi prosesnya berbelit-belit dan harus ada agunan sebagai jaminan, dan masalah ini yang paling sulit dipenuhi pedagang kecil, yang pada umumnya tidak memiliki agunan, kadang-kadang menyatakan bilamana ada agunan lebih baik dijual untuk digunakan modal. Melihat hal tersebut pemerintah hanya memperhatikan pengusaha ekonomi menengah ke atas tanpa memperhatikan masyarakat kecil yang ekonominya lemah yang pantas dibantu oleh pemerintah.
Sebenarnya, bila pemerintah memperhatikan pedagang kecil di pasar tradisional dengan menyalurkan kredit dengan bunga rendah antara 3-5% per bulan dan tanpa agunan dengan sendirinya rentenir yang berkembang di pasar tradisional akan hilang, tetapi kenyataannya ketidakhadiran pemerintah dalam membantu pedagang kecil maka tumbuh subur rentenir di pasar tradisional.

Peranan Rentenir
Pedagang kecil yang ekonominya lemah yang banyak berusaha di pasar tradisional pada umumnya memperoleh bantuan kredit lewat rentenir dengan bunga 20% yang cara memperolehnya sangat mudah yaitu prosesnya cepat tanpa ada agunan dan setiap saat dapat memperoleh pinjaman tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini sering terjadi pada saat tahun ajaran baru sekolah yang membutuhkan biaya untuk masuk sekolah dengan biaya cukup besar rata-rata antara 3-5 juta rupiah. Sedangkan pedagang ekonomi kecil di pasar trdisional baik sebagai pedagang kelontong, pedagang sayur, pakaian, rata-rata memiliki modal sekitar 10 juta rupiah. Bila uang 5 juta tersebut diambil untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya dan lain-lain akan mengurangi modal sebesar 5 juta rupiah dan jumlah barang yang dijual tinggal sedikit, yang berakibat pembelinya akan berkurang dan terakhir bangkrut. Tetapi dengan kehadiran rentenir di tengah-tengah pedagang kecil permasalahan biaya masuk sekolah dan lain-lain dapat diatasi yang malah menambah modal/kekayaan bagi si pedagang kecil sebagaimana kami jelaskan di atas.
Berdasarkan hal tersebut, pihak rentenir secara tidak langsung yang membangun ekonomi pedagang kecil yang keberadaannya sangat dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat.

Pandangan Negatif
Pihak rentenir banyak juga cemoohan yang dituduh sebagai lintah darat, dan bertindak tidak manusiawi dengan mengambil barang si peminjam bila angsurannya tidak di bayar. Langkah rentenir tersebut bisa dipahami mengingat memberikan pinjaman tanpa agunan demi kelangsungan usahanya. Dalam membicarakan pedagang kecil sifatnya yang positif dalam arti memperoleh keuntungan dan jangan mempermasalahkan dari sudut resiko, karena setiap usaha ada resikonya. Dengan menyadari hal tersebut tidak pada tempatnya mencemooh pihak rentenir yang bertindak kasar menurut penilaian si peminjam.

Pandangan Masyarakat Kecil
Pandangan masyarakat kecil ini, saya ambil satu contoh supir pribadi saya bernama Abbas. Saya minta pendapat apakah orang meminjamkan uang dengan bunga 20% yang disebut rentenir, bunga tersebut termasuk tinggi atau besar? dan lain-lain, jawabannya dia tidak mengetahui sistem bunga, tetapi dia memberikan pertanyaan bila seseorang meminjam uang 100 ribu rupiah atau satu juta rupiah berapa bunganya? Lalu saya jawab uang 100 ribu rupiah bunganya 20 ribu rupiah dan satu juta rupiah bunganya 200 ribu rupiah per bulan, lalu di jawab bunga tersebut dianggapnya wajar dan tidak tinggi.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pihak rentenir memberikan keuntungan besar kepada pedagang kecil di pasar tradisional.
2. Pihak rentenir secara umum membantu pedagang kecil dalam masalah permodalan yang diharapkan keberadaannya di masyarakat.
3. Pemerintah secara umum tidak membantu pedagang kecil yang banyak ditemukan di pasar tradisional.
4. Pemerintah hanya membantu pengusaha ekonomi menengah ke atas yang memiliki agunan sebagai jaminan.

Saran
Sesuai dengan kesimpulan tersebut di atas dapat disarankan sebagai berikut :
1. Pemerintah diharapkan tidak menindak pihak rentenir selama pemerintah belum dapat membantu pedagang kecil dari sudut permodalan atau dengan kata lain pemerintah memberikan kredit kepada pedagang kecil dengan bunga rendah guna menghilangkan rentenir di pasar tradisional.
2. Masyarakat kecil yang membutuhkan modal untuk berusaha agar memanfaatkan pihak rentenir dalam menjalankan roda perekonomiannya.
3. Masyarakat supaya menghilangkan pandangan negatif terhadap rentenir dengan tudingan penghisap darah/lintah darat.
4. Pihak rentenir jangan dipandang sebagai penghisap darah, cukup dilihat dari sudut bisnis/dagang untuk meningkatkan usahanya sendiri maupun si peminjam.
5. Pemerintah bila menganggap rentenir peranannya besar sebagai penolong ekonomi kecil di pasar tradisional agar memberikan ijin usaha yang sifatnya sederhana dalam menjalankan usahanya guna menghindari tindakan dari aparat dengan alasan tidak ada ijin.

Demikianlah pandangan kami bertalian dengan masalah rentenir penolong pedagang kecil di pasar tradisional, sebagai masukan dan semoga bermanfaat.

Jakarta, 30 Agustus 2010
Penulis

Monang Siahaan, SH. MM.

7 komentar:

  1. Setuju pak...

    di satu sisi rentenir dianggap merugikan karena bunga yang dibebankan sangat besar terhadap peminjam tapi di sisi lain dianggap sebagai dewa penolng karena telah membantu mengatasi problem kesulitan masyakat kecil yang kepepet dalam masalah keuangan.

    BalasHapus
  2. Setelah saya baca, ternyata rentenir itu baik untuk menolong orang kecil, karena si rentenir dari 100 ribu kalau 20% keuntungannya hanya 20ribu 1 bulan, sedangkan si peminjam uang keuntungan 580ribu 1 bulan. Disamping itu, rentenir tidak berbelit-belit dan tidak ada agunan, sedangkan pemerintah tidak bisa menjangkau masyarakat kecil di pasar tradisional.
    Tx. Reno

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  4. Rentenir menolong Masyarakat lapisan ekonomi lemah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya,sesuai dengan konsepsi diatas saya sangat setuju sekali.
    1. ditinjau dari sudut KEADILAN sudah memenuhi aturan(seseorang merasa diperlakukan adil apabila ia menerima atau diperlakukan sesuai apa yg merupakan haknya)
    2. ditinjau dari sudut SOSIAL sudah memenuhi aturan (keharusan manusia menghormati batasan-batasan kebebasannya sebagai mahluk sosial)
    semoga tulisan Bapak Monang Siahaan bermanfaat untu membantu masyarakat ekonomi lemah.

    BalasHapus
  5. hallo,saya butuh dana Rp 1.500.000 hari ini bisa?untuk biaya rumah sakit,tolong banget.tiap bulan saya cicil.atau anda tahu alamt ato no telp rentenir?thanks anda bs hubgi gue di 087853473232

    BalasHapus
  6. Saya sedang mebutuhkan dana Rp 500 juta untuk uang pangkal kuliah adik saya dengan proses yang cepat, akan saya lunasi plus bunganya dalam waktu 2 bulan, jika ada yang bisa membantu tolong hubungi saya di 085725399910. Rentenir pun saya terima, terimakasih

    BalasHapus
  7. pendapat anda cetek sekali, ini kan kalo asumsi pedagang usahanya lancar? bagaimana kalo usaha si peminjam tidak lancar atau bahkan tidak berjalan karena kurang bisa bersaing?? lalu tidak bisa bayar angsuran?? denda sudah pasti, terus asset yg dianggunkan menghilang??

    BalasHapus